Selamat Datang di BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media - BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media - BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media - BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media - BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media - BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media - BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media

Ai Chat

Breaking News
Global climate summit reaches historic agreement on carbon emissions • Tech giant announces revolutionary AI breakthrough • Major economic reforms proposed by government officials • International space mission discovers new exoplanet

Monday, 13 October 2025

Meteor dan Suara Dentuman Keras di Langit Cirebon

 Meteor dan Suara Dentuman Keras di Langit Cirebon  



Cirebon - Suara dentuman keras menggema di langit Kabupaten Cirebon pada Minggu malam (5/10/2025). Sekitar pukul 19.00 WIB, warga di sejumlah kecamatan panik sekaligus penasaran ketika mendengar ledakan yang disertai cahaya terang menyerupai bola api melintas cepat dari arah barat daya.
Sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan cahaya menyilaukan di langit Cirebon Timur, tepatnya di kawasan Kecamatan Lemahabang. Dalam hitungan detik, bola api itu lenyap, menyisakan gelombang kejut.

"Bener tadi ada suara kenceng pisan sampai pintu rumah bergetar. Awalnya saya kira ban truk pecah, ternyata katanya ada bola api jatuh di Lemahabang," ungkap Wamad (32), warga Kecamatan Mundu.
"Kalau dari pantauan BMKG memang ada getaran yang terekam seismograf, tapi tidak jelas dari mana sumbernya. Yang pasti bukan dari pergerakan lempeng bumi atau gempa," jelas Koordinator Lapangan BPBD Kabupaten Cirebon, Faozan.

Ia menambahkan, beberapa saksi menyebut sempat melihat benda mirip meteor sebelum dentuman terjadi. "Menurut keterangan saksi-saksi, terlihat seperti meteor atau roket," ujarnya.

Saat dikonfirmasi, Ketua Tim Kerja Prakiraan, Data, dan Informasi BMKG Kertajati, Muhammad Syifaul Fuad, memastikan bahwa fenomena tersebut bukan disebabkan oleh faktor cuaca.

"Fenomena yang berkaitan dengan meteor atau benda antariksa merupakan kewenangan BRIN. BMKG hanya memastikan dari sisi meteorologi, sementara semua indikator cuaca normal," kata Syifaul.

Hasil citra satelit menunjukkan langit Cirebon dalam kondisi cerah berawan tanpa adanya aktivitas petir atau pembentukan awan konvektif. "Dari sisi meteorologi, semua kondisi normal. Karena itu, kemungkinan lain di luar faktor cuaca perlu ditelusuri lebih lanjut," ujarnya.

Syifaul juga menegaskan bahwa BMKG tidak memiliki instrumen untuk mendeteksi meteor secara langsung. Karena itu, analisis lebih mendalam diserahkan kepada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

"Dari sisi meteorologi, semua kondisi normal. Karena itu, kemungkinan lain di luar faktor cuaca perlu ditelusuri lebih lanjut," jelasnya.

Kepastian datang setelah peneliti BRIN Thomas Djamaludin mengungkap bahwa cahaya misterius di langit Cirebon berasal dari meteor berukuran cukup besar yang memasuki atmosfer bumi.

"Berdasarkan analisis awal dari kesaksian warga serta rekaman CCTV yang menunjukkan cahaya melintas sekitar pukul 18.35 WIB, disimpulkan bahwa objek itu adalah meteor yang memasuki atmosfer dari arah barat daya," jelas Thomas.

Saat meteor menembus lapisan atmosfer yang lebih rendah, gesekan udara menimbulkan bola api terang (fireball) dan gelombang kejut hingga terdengar seperti ledakan. BMKG Cirebon bahkan mencatat getaran seismik pada pukul 18.39.12 WIB, bertepatan dengan laporan dentuman keras di wilayah Kuningan dan Cirebon.

"Peristiwa seperti ini merupakan fenomena alam biasa, meski ukurannya cukup besar sehingga menimbulkan cahaya terang dan dentuman. Publik tidak perlu khawatir," ujarnya.

Thomas menambahkan, meteor tersebut diperkirakan jatuh di Laut Jawa setelah melintasi langit Cirebon. "Dentuman yang terdengar adalah akibat meteor memasuki atmosfer yang lebih rendah. Berdasarkan analisis, meteor tersebut diperkirakan jatuh di Laut Jawa," terangnya.

Meski analisis ilmiah telah mengarah ke meteor, kepolisian tetap bergerak cepat memastikan kebenaran kabar di lapangan. Kapolresta Cirebon, Kombes Pol Sumarni, mengatakan pihaknya menerima banyak laporan masyarakat mengenai benda langit yang jatuh.


Definisi dan Proses Masuk Atmosfer
Secara ilmiah, meteor adalah fenomena cahaya yang terlihat ketika sebuah meteoroid (batu atau partikel kecil dari ruang angkasa) memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan sangat tinggi.

1. Meteoroid
Meteoroid adalah benda padat alami yang ukurannya jauh lebih kecil dari asteroid, berkisar dari debu hingga sekitar 1 meter, melayang di ruang antarplanet. Sebagian besar meteoroid adalah fragmen dari komet atau asteroid.

2. Ablasi dan Pijar (Meteor)
Ketika meteoroid berhadapan dengan atmosfer Bumi, ia bergerak sangat cepat (bisa mencapai puluhan kilometer per detik).

Gesekan: Meteoroid bertabrakan dengan molekul udara, menyebabkan kompresi udara yang sangat cepat di depannya.

Panas: Kompresi dan gesekan ini menghasilkan panas yang ekstrem, memanaskan meteoroid dan gas di sekitarnya hingga mencapai ribuan derajat Celsius.

Ablasi: Panas ini menyebabkan material pada permukaan meteoroid menguap, sebuah proses yang disebut ablasi.

Cahaya: Gas yang terpanaskan dan material meteoroid yang menguap memancarkan cahaya, menciptakan garis terang yang kita sebut meteor atau sering juga disebut bintang jatuh ("shooting star").

3. Bola Api (Fireball) dan Dentuman
Meteoroid yang berukuran lebih besar dapat menghasilkan meteor yang sangat terang, disebut bola api (fireball). Jika bola api ini cukup besar dan mampu menembus lapisan atmosfer yang lebih rendah, ledakan atau fragmentasi bisa terjadi, yang menghasilkan gelombang kejut (shockwave).

Gelombang Kejut: Gelombang kejut ini adalah suara keras yang kita dengar sebagai dentuman (sonic boom) karena objek tersebut bergerak lebih cepat dari kecepatan suara.

4. Meteorit
Sebagian besar meteoroid kecil terbakar habis sebelum mencapai permukaan. Namun, jika meteoroid cukup besar dan tidak sepenuhnya habis terbakar, fragmen yang tersisa dan mencapai permukaan Bumi disebut meteorit.


0 comments:

PCN Indonesia Gelar Build Next Bandung: Pamerkan Material dan teknologi Bangunan Terbaru

BANDUNG, BIP NEWS MEDIA – Principal Collective Network (PCN) Indonesia kembali menggelar ajang pameran industri bertajuk "B...