Selamat Datang di BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media - BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media - BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media - BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media - BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media - BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media - BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media BiP News Media - BiP News Media

Ai Chat

Breaking News
Global climate summit reaches historic agreement on carbon emissions • Tech giant announces revolutionary AI breakthrough • Major economic reforms proposed by government officials • International space mission discovers new exoplanet

Saturday, 13 September 2025

JABAR MEDIA SUMMIT 2025 11 SEPTEMBER 2025 HOTEL HOLIDAY IN BANDUNG

 


Masa Depan Media di Era Digital: Menakar Peluang di Tengah Tantangan

BANDUNG -- Industri media tengah menghadapi titik kritis dalam era digital yang serba cepat dan disruptif. Di tengah gelombang perubahan teknologi, pergeseran perilaku audiens, dan dominasi platform digital global, para pelaku media dituntut untuk berinovasi agar tetap relevan dan berkelanjutan. Tahun 2025 pun menjadi penentu, apakah media mampu bertahan atau justru tenggelam dalam badai disrupsi.

CEO Suara.com, Suwarjono, menyoroti tantangan paling mendesak yang dihadapi media saat ini, yakni keberlangsungan hidup. “Isu kekinian yang paling berat soal keberlangsungan hidup media. Jurnalisme sekarang ini tidak mampu dan kesulitan membiayai biaya produksi media. Belakangan ini banyak media yang tidak bisa menangani gelombang badai tersebut,” ujarnya dalam Jabar Media Summit 2025 digelar di Pasteur Conventions Center, Holiday Inn Hotel, Kota Bandung, Kamis (11/9/2025). 

Menurut Suwarjono, dua tahun terakhir menjadi masa yang sangat serius bagi kelangsungan media. Ia menekankan pentingnya diversifikasi bisnis sebagai strategi bertahan. “Caranya biar usia media panjang, yakni media tersebut harus bisa menemukan bisnis lain di luar bisnis pemberitaan,” tambahnya.

Suwarjono menilai, model bisnis media yang disokong oleh lini usaha lain terbukti lebih tahan banting. “Model bisnis media ketika dibantu oleh yuridis lini bisnis yang lain, itu rata-rata bisa bertahan. Jadi salah satu model bisnis media karena menarik kalau kita memiliki yuridis bisnis yang lain,” jelas Suwarjono.

Inovasi menjadi kunci kedua. Pengalaman Suara.com selama satu dekade menunjukkan bahwa trial and error dalam mencari model bisnis baru adalah keniscayaan. “Hal ini yang bisa membuat kami bisa survive hingga sampai saat ini kami belum pernah melakukan layoff,” ungkapnya.

Tantangan yang dihadapi media saat ini tidak sedikit. Suwarjono merinci sepuluh tantangan besar, mulai dari penurunan trafik berita, efisiensi anggaran iklan pemerintah, disrupsi AI, perubahan perilaku audiens, hingga dominasi platform digital dalam periklanan. “Saya kira ini menjadi PR bagi kita, dan ini akan mengubah kondisi media saat ini,” tegasnya.

Namun di balik tantangan, terdapat peluang yang tak kalah besar. Suwarjono menyebut bahwa media kecil justru lebih berpeluang untuk hidup dan sustain. “Di antaranya konsolidasi dan optimasi aset digital, media sebagai jembatan, ekosistem/showcase, hingga karakter channel dan monetisasi,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya memahami posisi media dalam rantai industri. “Salah satu peluang yang cukup besar di luar media, adalah anatomi komposisi kita, apakah posisi kita di industri hulu atau di industri hilir yang masuk langsung ke konsumen," katanya.

Sementara itu, CEO Tempo, Wahyu Dhyatmika, menambahkan perspektif tentang peran media dalam demokrasi dan pasar. Merurut Wahyu, ada dua sisi bagi perusahaan media yakni value capture dan value creation. "Apa manfaat berita kita untuk publik untuk menjunjung demokrasi, apa manfaat yang diberikan kepada pasar,” ujarnya.

Namun, ia mengakui adanya kesenjangan antara nilai yang diciptakan dan nilai yang berhasil dimonetisasi oleh media. “Problemnya adalah adanya kesenjangan antara jumlah yang dihasilkan model bisnis ini, dan itu cukup signifikan berdampak pada trafik atau pageview media,” kata Wahyu.

Ia menyebut bahwa pendapatan dari langganan Tempo saja hanya mampu menutup 15 persen biaya produksi. “Artinya dengan perubahan media dengan mengandalkan adsense, pageview tidak bisa untuk membiaya biaya produksi redaksi,” jelasnya.

Wahyu menekankan perlunya intervensi negara dalam menghadapi kegagalan pasar. Salah satunya negara harus mengintervensi kegagalan pasar ini untuk melindungi media.

"Bisa dengan dimulai dengan pemerintah untuk memberikan keringanan pajak penghasilan untuk karyawan di perusahaan media,” sarannya.

Dari sisi regulasi, Ketua Komisi Pengaduan dan Penegakan Etika Dewan Pers, Muhammad Jazuli, menyoroti ketimpangan antara media arus utama dan media sosial. “Media arus utama apapun platform bentuknya, itu jelas ada aturannya. Sementara social media dari segi konten maupun dari segi bisnis tidak ada yang mengatur,” ujarnya.

Ia mendorong pemerintah untuk lebih peduli terhadap media sebagai pilar demokrasi. “Media untuk bisa bertahan, pemerintah bisa membuat kebijakan yang memberikan keringanan kepada media arus utama,” tegas Jazuli.

Sementara itu, tingginya jumlah aduan ke Dewan Pers menunjukkan dinamika kepercayaan publik. Oleh karenanya, ia juga menilai media perlu berbenah agar tidak kehilangan kepercayaan publik.“Di 2025 ini ada total 867 aduan, mayoritas aduan yang dimenangkan itu pengadu,” ungkapnya. 

Sementara itu, Eva Danayanti dari International Media Support (IMS) menekankan relevansi media lokal dalam ekosistem digital. “Kuncinya kalau ngomongin konten, kalau kita memperhatikan di sekitar dan di sebelah kita, itu bisa lebih relevan untuk konten media lokal bahkan hiperlokal,” katanya.

Eva mendorong media lokal untuk membangun interaksi dan kedekatan dengan audiens. Eva menekankan, media saat ini tidak hanya memproduksi atau membuat berita tapi bagaimana juga bisa berinteraksi. "Jadi bagaimana audiens tidak hanya diberlakukan sebagai pembaca tapi juga bagaimana mereka bisa terlibat,” jelasnya.

Ia pun berharap agar media lokal tidak terjebak ambisi menjadi besar, melainkan menjadi relevan. “Ke depan media lokal bukan bagaimana menjadi media besar, tapi bagaimana menjadi relevan dengan konteks lokalnya,” pungkas Eva.

Jabar Media Summit 2025 digelar di Pasteur Conventions Center, Holiday Inn Hotel, Kota Bandung, Kamis (11/9/2025). Acara ini merupakan hasil kolaborasi antara AyoBandung.id, Suara.com, dan Radar Cirebon, yang menghadirkan ratusan peserta dari perwakilan media se-Jawa Barat, akademisi, pemerintahan, hingga pelaku usaha.

Tahun ini, Jabar Media Summit mengusung tema Pendalaman Model Bisnis dan Konten Berdampak. Acara ini terdiri atas empat sesi utama materi, yakni Masa Depan Media Lokal di Era Digital, Penggunaan AI untuk Mendukung Kerja Local Media, Membangun Konten Berdampak untuk Ekosistem Informasi Publik, serta Kolaborasi Media Lokal dan Stakeholder.

                    


 Media Massa Jadi Mitra Strategis dan Sumber Informasi Terpercaya


     BANDUNG - Media massa menjadi andalan dalam memberikan informasi yang utuh dan terukur di era digital dan sosial media seperti saat ini.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat Adi Komar derasnya arus informasi menjadi tantangan bagi semua pihak untuk bisa mengelola informasi agar tidak terjerumus mendapat informasi sesat.

"Saat ini salah satu tantangan adalah derasnya arus informasi yang harus dikelola dengan baik, terutama yang bertebaran di sosial media," tutur Adi saat memberikan materi dalam Jabar Media Summit, Kamis 11 September 2025.

Dia memaparkan lebih dari tiga perempat penduduk Jawa Barat menjadi pengguna media sosial yang sewaktu-waktu bisa menerima disinformasi. Hal ini dikarenakan, sebagian besar masyarakat menjadikan media sosial sebagai arus utama informasi. Namun dilain sisi, kebenaran informasi di media sosial tidak bisa dipertanggungjawabkan.

"Makanya membutuhkan peningkatan literasi digital kepada masyarakat,"ujar Adi.

Dalam pengelolaan informasi juga literasi digital, pihaknya mengakui tidak bisa dilakukan sendiri, akan tetapi membutuhkan kolaborasi dengan pelbagai pihak, terutama media massa.

Dalam hal ini media massa bisa menjadi mitra dalam memberikan informasi yang akurat dan terpercaya. Termasuk dalam menyiarkan pelbagai informasi pemerintah kepada masyarakat.

Hal senada diakui oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Barat Ning Wahyu. Menurutnya, media massa memiliki peran penting bagi pengusaha dalam memberikan informasi akurat.

"Untuk pengusaha, media harus menjadi sahabat baik. Tanpa adannya media, kami akan buta," ujar Ning.

Dia memaparkan, ditengan derasnya arus informasi saat ini kerap merugikan bagi pengusaha. Para pengusaha akan dipusingkan dengan terlalu banyaknya informasi diterima, terlebih informasi yang beredar masih harus disaring kembali karena belum tentu sepenuhnya benar.

Padahal, informasi merupakan hal penting bagi pengusaha dalam menentukan arah dan kebijakan saat menjalankan usahanya.

"Perlu dipahami setiap detik keluar informasi atau tren baru. Tapi itu semua belum tentu valid.  Hanya melalui media massa kami bisa mendapat informasi valid, dan menjadi senjata pengusaha untuk mengatur strategi, mengambil keputusan tepat. Tanpa informasi valid tidak akan bisa membuat keputusan yang sesuai,"katanya.

Dengan melihat fakta yang ada, baik Diskominfo maupaun Apindo mengamini jika media massa harus menjadi mitra strategis dalam memberikan informasi akurat dan terpercaya bagi seluruh lapisan.

Jabar Media Summit 2025 digelar di Pasteur Conventions Center, Holiday Inn Hotel, Kota Bandung, Kamis (11/9/2025). Acara ini merupakan hasil kolaborasi antara AyoBandung.id, Suara.com, dan Radar Cirebon, yang menghadirkan ratusan peserta dari perwakilan media se-Jawa Barat, akademisi, pemerintahan, hingga pelaku usaha.

Tahun ini, Jabar Media Summit mengusung tema Pendalaman Model Bisnis dan Konten Berdampak. Terdiri atas empat sesi utama materi, yakni Masa Depan Media Lokal di Era Digital, Penggunaan AI untuk Mendukung Kerja Local Media, Membangun Konten Berdampak untuk Ekosistem Informasi Publik, serta Kolaborasi Media Lokal dan Stakeholder.

Bandung - Jabar Media Summit 2025 berikan sejumlah rekomendasi kepada stakeholder. Mulai dari skema dukungan keberlanjutan industri Media hingga soal adaptasi era Artificial Intelligence (AI). 

Setidaknya ada 15 rekomendasi yang disampaikan. Itu dirangkum dari beberapa sesi diskusi yang dilangsungkan sejak pagi. 

Pemimpin Redaksi Pikiran Rakyat Satrya Graha menguraikan, rekomendasi pertama yang disampaikan adalah berkaitan dengan skema dukungan keberlanjutan media lokal. "Pemerintah daerah dan stakeholder bisnis perlu menyiapkan insentif dan kolaborasi untuk menjaga keberlangsungan media lokal. Bentuknya bukan hanya lewat iklan, tapi juga program kemitraan, " tuturnya. 

Berikutnya adalah dorongan diversifikasi media. Harapannya stakeholder dapat membantu media lokal mengakses peluang usaha baru. Misalnya lewat pelatihan kewirausahaan, pembukaan akses pendanaan, atau model joint venture. 

Rekomendasi selanjutnya adalah perlunya inkubasi inovasi digital media. Saat ini perlu adanya ekosistem inovasi bersama mulai dari akademisi, startup, investor, dan media untuk uji coba model bisnis dan produk digital yang bisa menopang media lokal.

Lalu, arah kebijakan iklan pemerintah diharapkan bisa lebih adil. Pemerintah, perlu memastikan distribusi anggaran iklan yang merata agar media kecil juga mendapat ruang bertahan.

Selanjutnya, perlu penguatan kolaborasi lintas sektor. Artinya media kecil dapat dijadikan mitra strategis dalam program CSR perusahaan maupun inisiatif komunitas. "Sehingga mereka tidak bekerja sendirian menghadapi disrupsi, " cetusnya. 

Satrya melanjutkan, rekomendasi berikutnya berkaitan dengan pemetaan posisi media di rantai industri. Artinya akademisi dan asosiasi media bisa membantu melakukan riset posisi media lokal dalam ekosistem industri, untuk merumuskan strategi hilirisasi dan monetisasi yang tepat.

Penanggung Jawab AyoBandung ID Adi Ginanjar Maulana melanjutkan, rekomendasi yang tak kalah penting adalah berkaitan dengan kehadiran AI. Pertama, stakeholder teknologi dan startup AI dapat menyediakan akses, pelatihan, atau lisensi murah bagi media lokal. "Itu agar mereka bisa mengadopsi AI secara proporsional, " sambungnya. 

Berikutnya adalah, pemerintah pusat atau daerah bersama asosiasi media perlu menyusun pedoman etis penggunaan AI di ruang redaksi. "Itu agar teknologi ini tidak merusak kepercayaan publik, " jelasnya. 

Selain itu, Adi juga menegaskan, akademisi, asosiasi wartawan, dan lembaga pelatihan perlu mengembangkan kurikulum baru agar jurnalis bisa menguasai literasi AI. Sehingga jurnalis tak takut digantikan.

Dan rekomendasi yang tak kalah penting, warga perlu dilibatkan dalam produksi informasi. Caranya Pemerintah Daerah dan komunitas dapat memfasilitasi citizen journalism atau kanal netizen sebagai sarana partisipasi publik. Sehingga warga merasa memiliki media dan ekosistem informasinya.

Sementara Manajer Online Tribun Jabar Kisdiantoro menambahkan, media masih perlu dilibatkan dalam berbagai fungsi sosialisasi untuk mereduksi berbagai masalah. Sebagai contoh terkait kondisi Jawa Barat yang tidak ramah anak karena tingginya angka kekerasan. "Maka edukasi tak cukup di ruang kelas, " katanya. 

Namun Kisdiantoro juga mengingatkan agar media untuk tidak lupa memperbaiki internal. Itu mengingat masih tingginya angka aduan yang masuk ke Dewan Pers.

Jabar Media Summit 2025 digelar di Pasteur Conventions Center, Holiday Inn Hotel, Kota Bandung, Kamis (11/9/2025). Acara ini merupakan hasil kolaborasi antara AyoBandung.id, Suara.com, dan Radar Cirebon, yang menghadirkan ratusan peserta dari perwakilan media se-Jawa Barat, akademisi, pemerintahan, hingga pelaku usaha.

Tahun ini, Jabar Media Summit mengusung tema Pendalaman Model Bisnis dan Konten Berdampak. Terdiri atas empat sesi utama materi, yakni Masa Depan Media Lokal di Era Digital, Penggunaan AI untuk Mendukung Kerja Local Media, Membangun Konten Berdampak untuk Ekosistem Informasi Publik, serta Kolaborasi Media Lokal dan Stakeholder.






Acara didukung oleh bank bjb, Bank BNI, Harita Nikel, Bio Farma, JNE, Eiger Adventure, PLN UID Jabar, Bank Indonesia Jawa Barat, bjb Syariah, Pos Indonesia, Cirebon Power, Modena, Diskominfo Kota Cirebon, dan Yamaha.

0 comments:

PCN Indonesia Gelar Build Next Bandung: Pamerkan Material dan teknologi Bangunan Terbaru

BANDUNG, BIP NEWS MEDIA – Principal Collective Network (PCN) Indonesia kembali menggelar ajang pameran industri bertajuk "B...